Sabtu, 25 Mei 2024

ABSENSI KEHADIRAN


  

 

1. Pengertian Sifat Wajib, Mustahil dan Sifat Jaiz Allah

Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna dan yang Maha Agung. Dzat Allah adalah tunggal, tidak terdiri dari unsur-unsur dan bagian-bagian dan tidak ada suatu apa pun yang serupa dengan-Nya. Dan karena itu manusia dilarang berpikir tentang Dzat Allah karena tidak dapat mengetahuinya. Manusia dipanggil untuk menggunakan akalnya bagi memikirkan alam ini dan segala isinya, tidak untuk memikirkan Dzat Allah yang gaib itu dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Beriman kepada Allah berarti manusia wajib beriktikad dengan penuh yakin akan sifat-sifat yang wajib, sifat-sifat yang mustahil dan sifat-sifat yang jaiz. Sifat wajib Allah adalah sifat-sifat yang khusus yang hanya dimiliki oleh Allah, dan tidak ada satupun makhluk yang memiliki sifat tersebut. Adanya Allah ini, menjadi salah satu sifat yang melekat pada sifat wajib Allah. Sifat wajib Allah inilah yang membedakan Allah sebagai sang Pencipta (Khalik), dengan semua makhluk ciptaan-Nya. Sifat mustahil Allah adalah sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah Azza wa Jalla Yang Maha Sempurna. Sedangkan sifat jaiz Allah adalah adalah sifat yang mungkin (boleh) ada atau sifat yang mungkin (boleh) tidak ada pada Allah. Selanjutnya kita akan mengkaji dua sifat Allah, yaitu sifat wajib dan sifat jaiz Allah.

2. Sifat Wajib Allah

Dalam al-aqidah as-Sughra yang terkenal dengan judul Umm al-Barahain Imam asSanusi mengatakan: “ Maka di antara sifat wajib bagi Allah Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Perkasa adalah 20 sifat.” Setiap mukalaf wajib meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Berikut ini 20 sifat wajib bagi Allah.

1) Wujūd (Ada). Allah adalah Dzat yang pasti ada. Dia berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun, dan tidak ada Tuhan selain Allah SWT.

2) Qidam (Terdahulu/Awal). Dialah sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Maksudnya, Allah telah ada lebih dulu dari pada apa yang diciptakannya.

3) Baqā’ (Kekal). Maksudnya Allah maha kekal. Tidak akan punah, binasa, atau mati. Dia akan tetap ada selamanya

4) Mukhālafatuhu li al-hawādiśi (Berbeda dengan makhluk ciptaannya). Allah sudah pasti berbeda dengan ciptaanya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Besar. Tidak ada sesuatupun yang mampu menandingi dan menyerupai keagunganNya.

5) Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri). Maksudnya Allah itu berdiri sendiri, tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun.

6) Wahdaniyah (Tunggal/ Esa). Allah maha Esa atau Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta.

7) Qudrat (Berkuasa). Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah Swt.

8) Irādat (Berkehendak). Apabila Allah berkehendak, maka jadilah hal itu dan tidak ada seorangpun yang mampu mencegah-Nya.

9) ‘Ilmu (Mengetahui). Allah Swt. Maha Mengetahui atas segala sesuatu, baik yang tampak atau tidak tampak.

10) Hayāt (Hidup). Allah Swt adalah Maha Hidup, tidak akan pernah mati, binasa, ataupun musnah. Dia kekal selamanya.

11) Sama’ (Mendengar). Allah Maha Mendengar baik yang diucapkan maupun yang disembunyikan dalam hati.

12) Basar (Melihat). Allah melihat segala sesuatu. Penglihatan Allah tidak terbatas. Dia mengetahui apapun yang terjadi di dunia ini.

13) Kalām (Berfirman) Allah itu berfirman. Dia bisa berbicara atau berkata secara sempurna tanpa bantuan dari apapun. Terbukti dari adanya firmanNya dari kitab-kitab yang diturunkan lewat para Nabi.

14) Qādirun (Berkuasa) Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta.

15) Mūridun (Berkehendak) Bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara, maka tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya.

16) ‘Alimun (Mengetahui) Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Baik yang ditampakan maupun disembunyikan. Tidak ada yang bisa menandingi pengetahuan Allah Yang Maha Esa.

17) Hayyan (hidup) Allah adalah dzat yang hidup. Allah tidak akan mati, tidak akan tidur ataupun lengah.

18) Sami’un (Mendengar) Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan, ataupun doa hamba-Nya

19) Bashiran (Melihat) Keadaan Allah yang melihat tiap-tiap yang maujud (benda yang ada). Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.

20) Mutakalliman (Berfirman atau berkata – kata) Sama dengan Qalam, Mutakalliman juga berarti berfirman. Firman Allah terwujud lewat kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para Nabi.

 

Sifat-sifat wajib bagi Allah yang terdiri atas 20 sifat itu dikelompokkan menjadi 4 sebagai berikut.

 1) Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang hanya berhubungan dengan Dzat Allah. Sifat nafsiyah ini ada satu, yaitu wujūd.

2) Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang menghilangkan sifat-sifat yang tidak layak atau tidak sesuai dengan kesempurnaan Allah. Ia menafikan sifat-sifat lawannya yang hanya sesuai sepenuhnya dengan makhluk dan mustahil adanya pada Dzat Allah. Yaitu sifat baru, binasa, bergantung kepada yang lain dan sebagainya adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia karena ia adalah tidak sempurna. Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu: qidam, baqa’, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyat.

 3) Sifat Ma’ani, yaitu sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Ia menambah makna kesempurnaan pada Dzat Allah. Jikapun terdapat sifat-sifat tersebut pada manusia, maka persamaannya hanya pada lahir atau lafal saja, tidak pada hakikat. Misalnya, Allah mempunyai sifat ilmu dan juga manusia mempunyai sifat ilmu, tetapi limu Allah adalah mutlak, sedangkan ilmu manusia adalah relatif. Allah mengetahui sesuatu peristiwa di alam ini sebelum terjadinya, sedangkan manusia mengetahui setelah terjadinya. Yang termasuk sifat ma’ani ada tujuh, yaitu; qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, basar, kalam.

4) Sifat Ma’nawiyah, yaitu kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat ma’nawiyah tidak bisa berdiri sendiri, sebab setiap ada sifat ma’ani tentu telah didefinisikan sebagai sifat yang ada pada sesuatu yang disifati yang otomatis menetapkan suatu hukum padanya, maka sifat ma’nawiyah merupakan hukum tersebut. Sifat ma’nawiyah merupakan kondisi yang selalu menetapi sifat ma’ani. Sifat ‘ilm misalnya pasti dzat yang bersifat dengannya mempunyai kondisi berupa kaunuhu aliman (keberadaannya sebagai Dzat yang berilmu). Dengan demikian itu sifat ma’nawiyah juga ada tujuh sebagaimana ma’ani, yaitu: kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu ‘aliman, kaunuhu hayyan, kaunuhu sami’an, kaunuhu bashiran, kaunuhu mutakalliman.

3. Sifat Mustahil bagi Allah

Sifat mustahil ini adalah kebalikan dari sifat wajib. Maksudnya sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah Azza wa jalla yang Maha Sempurna. Berikut sifat-sifat mustahil bagi Allah.

1) Adam (Tiada) Sifat mustahil yang pertama adalah Adam yang berarti tiada. Sifat ini kebalikan dari wujūd yang artinya ada.

2) Huduts (Ada yang mendahului) Hudust berarti ada yang mendahului, merupakan lawan kata dari qidam. Tidak mungkin ada yang mendahului keberadaan Allah Azza wa Jalla. Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Tentunya Pencipta sudah pasti lebih dahulu dari apa-apa yang diciptakanNya.

3) Fana (Musnah) Allah Swt. tidak mungkin musnah. Sebaliknya, Dia bersifat kekal selama-lamanya. Dijelaskan dalam QS. Ar-Rahman: 26-27.

4) Mumatsalatu lil hawaditsi (Ada yang menyamai) Allah SWT. adalah dzat yang menciptakan segala sesuatu di bumi dan alam semesta. Dialah yang Maha Agung. Tidak mungkin ada sesuatu yang menyamai atau menandingiNya.

5) Ihtiyaju lighairihi (Memerlukan yang lain) Allah SWT. tidak memerlukan yang lain. Dia mampu mewujudkan dan mengatur segalanya secara sempurna tanpa bergantung pada siapapun.

6) Ta’adud (Berbilang) Ta’adud adalah kebalikan dari wahdaniyah yang berarti tunggal. Allah itu Maha Esa. Tidak mungkin berbilang atau berjumlah lebih dari satu. Allah SWT. tidak memiliki sekutu, tidak beranak dan tidak diperanakan. Bukti keesaan Allah tertuang dalam kalimat syahadat dan juga dalam ayat Al-Quran seperti dalam QS. al-Ikhlas ayat 1-4.

7) Ajzun (Lemah) Ajzun berarti lemah, merupakan lawan kata dari dari qudrat yang artinya berkuasa. Jadi Allah tidak mungkin bersifat lemah. Sebaliknya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melampui kekuasaan Allah SWT. Dalam Al-Quran dijelaskan: “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al Baqarah: 20)

8) Karahah (Terpaksa) Allah tidak memiliki sifat terpaksa. Sebaliknya Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melawan ataupun menandingi kehendak dari Allah SWT.

9) Jahlun (Bodoh) Mustahil bagi Allah SWT. bersifat bodoh. Dia menciptakan alam semesta dengan segala isinya begitu sempurna. Dia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Dan dialah yang Maha Kaya lagi Maha Mengetahui.

10) Mautun (Mati) Allah tidak akan mati. Dia bersifat kekal. Terus-menerus mengurus makhluknya Tanpa tidur dan tidak letih sedikitpun. Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 255.

11) Shamamun (Tuli) Mustahil Allah bersifat Tuli. Allah SWT. adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah meliputi segala sesuatu.

12) Ama (Buta) Allah SWT. juga tidak buta. Dia Maha Melihat Segala Sesuatu. Tak ada satu hal pun yang luput dari penglihatan-Nya.

13) Bakamun (Bisu) Allah SWT. tidaklah Bisu. Allah berkata dan berfirman dengan sangat sempurna. Tak ada bisa mengalahkan keindahan firman Allah SWT. Dan salah satu Nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah adalah Nabi Musa

14) ‘Ajizan (Zat yang lemah) Mustahil Allah bersifat lemah. Allah SWT. adalah pencipta alam semesta dan segala isinya. Dia Maha Kuasa atas semua hal.

15) Karihan (Zat yang terpaksa) Allah SWT. bukanlah dzat yang terpaksa. Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Hanya berfirman “kun fa yakun” maka jadilah apa yang dikehendaki oleh Nya

16) Jahilan (Zat yang sangat bodoh) Mustahil Allah adalah dzat yang bodoh. Allah Maha Mengetahui dan Melihat apa-apa yang ditampakkan atau disembunyikan.

17) Mayyitan (Zat yang mati) Allah tidak mati. Allah bersifat kekal, tidak musnah dan tidak binasa. Dia tidak pernah tidur. Selalu mengawasi hamba-hambaNya setiap saat.

18) Ashamma (Zat yang tuli) Mustahil Allah bersifat tuli. Allah adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah tak terbatas dan meliputi segala sesuatu.

19) A’ma (Zat yang buta) Allah Maha Melihat, tidaklah buta. Dia Maha Sempurna dengan seluruh keagunganNya.

20) Abkama (Zat yang bisu) Allah bukanlah dzat yang bisu. Allah berfirman dan firmanNya tertuang dalam kitabkitab suci yang diturunkan lewat para Nabi.

4. Sifat Jaiz Allah

sifat jaiz Allah adalah sifat yang mungkin (boleh) ada atau sifat yang mungkin (boleh) tidak ada pada Allah. Dalam kalimat lain, sifat jaiz ini adalah sifat yang bisa melekat pada Allah dan bisa pula tidak melekat pada Allah. Sebab semua adalah berdasarkan kehendak-Nya, maka Allah bisa melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Apabila sifat wajib dan sifat mustahil Allah Swt. ada banyak, maka sifat jaiz pada Allah hanya satu yakni (fi’lu kulli mukminin au tarkuhu) artinya adalah Allah dapat melakukan sesuatu hal dan dapat pula tidak melakukan sesuatu hal. Tidak ada kewajiban atas-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tidak ada pula paksaan kepada-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kehendak sepenuhnya ada pada Allah.

5. Keutamaan Mengenal Nama dan Sifat Allah

Mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah sangatlah penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam manfaat.

1) Mengenal nama dan sifat Allah adalah ilmu yang paling mulia dan paling utama, yang kedudukannya paling tinggi dan derajatnya paling agung, karena mulianya ilmu dilihat dari mulianya sesuatu yang dipelajari.

2) Semakin mengenal Allah berarti semakin mencintai dan mengagungkan-Nya, juga semakin takut, berharap, ikhlas dalam beramal kepada-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah, maka semakin ia berserah diri kepada Allah, semakin ia menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan baik.

3) Allah itu menyukai nama dan sifat-Nya, Allah pun suka jika nama dan sifat-Nya nampak bekasnya pada makhluk-Nya. Inilah bentuk kesempurnaan Allah.

4) Iman akan semakin bertambah, semakin mengenal Allah maka akan semakin merasa bahwa Allah selalu bersamanya.

5) Manusia diciptakan untuk menyembah Allah semata dan mengenal-Nya.

6. Cara Meneladani Asmaul Husna dalam Kehidupan Sehari-Hari

1. Senantiasa Berbuat Baik Terhadap Sesama.Allah SWT memiliki sifat pengasih dan penyayang kepada semua makhluk-Nya.

2. Teguh Pendirian dalam Beribadah.

3. Selalu Tunduk, Patuh dan Bersyukur.

4. Memiliki Sifat Sabar dan Ikhlas

1.LATIHAN SOAL TENTANG SIFAT SIFAT ALLAH

2. KOLOM PERTANYAAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ABSENSI KEHADIRAN      1. Pengertian Sifat Wajib, Mustahil  dan Sifat Jaiz Allah Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna dan yang Maha Agung....